Awal Maret 2023 lalu saya berkesempatan mengunjungi negara Belanda. Dari Jakarta menuju Amsterdam dengan transit di Dubai. Perjalanan ditempuh kurang lebih 16 jam dan transit selama 2.5 jam. Cukup melelahkan, tapi enjoy aja. Namanya juga jalan-jalan ya harus banyak di jalan. Kalau banyak ngendon di rumah namanya bertapa..:v

Cuaca di negara Kincir Angin waktu saya ke sana masih musim dingin. Cuaca sekitar nol sampai dengan minus 4 derajat celcius. Bagi saya yang tidak terbiasa hidup dengan cuaca dingin, cuaca selama di sana sangat menjadi kendala.

Meskipun sudah pakai longjohn, jaket tebal, baju dobel, apalagi kalau tidak pakai sarung tangan, dinginnya sangat menusuk tulang. Pernah juga pada saat sore dan malam diguyur hujan salju, tapi tidak terlalu tebal, salju basah bercampur dengan air hujan. Ya lumayan, bisa merasakan hujan salju..:P

Jalan-jalan selama di Belanda menjelajahi dua kota saja, yaitu kota Amsterdam dan Den Haag. Di antaranya ke Dam Square melihat megahnya bangunan tua Amsterdam, di sana ada Madame Tusauds yang terkenal di dalamnya banyak patung lilin para tokoh dunia. Wisata kanal cruise. menelusuri sungai yang banyak sekali terdapat di pusat kota Amsterdam.

Selain itu, nah yang ini sih cuma lewat doang karena berdekatan dengan hotel dan tidak sengaja lewat karena mau ke hotel dari Dam Square namun nyasar. Ya biasa karena orang asing jadi nyasar-nyasar dikit biasalah. Apa itu yang dilewati pas nyasar? Yaitu melewati daerah “Red Light“, tempat para wanita-wanita penggoda menjajakan diri dengan berdiri di ruang kaca. Bedanya, di sana semua orang yang lewat bisa melihat bebas. Bukan di dalam ruangan tertutup, melainkan open house, alias terbuka. Ya buka sebuka-bukanya..LoL.

Kenapa disebut red light? Karena di depan rukonya dipasang lampu merah. Jadi kalau ada ruko di Amsterdam dipasangi lampu merah berkelip berarti itu tandanya Anda memasuki zona merah.

Ternyata, saya juga baru tahu setelah ngobrol dengan penduduk lokal yang menjadi sopir pada saat menuju Bandara, ada juga Blue Light. Bedanya apa? Kalau red light di dalamnya wanita, sedangkan blue light di dalamnya adalah laki-laki atau dengan tanda bendera pelangi, yang menunjukkan bahwa di tempat itu tempat nongkrongnya LGBT.

Saya juga LGBT, tapi bukan dalam makna Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Dari dulu harus saya akui secara jujur bahwa saya pengidap LGBT, alias Laki-laki Gelap Beristri Terang..cocoklah ya..:v

Kebebasan di sana nomor satu. Prostitusi dan LGBT legal, yang penting bayar pajak. Lupakan tentang itu. Tidak penting. Saya juga cuma lewat doang, mencoba memahami budaya Amsterdam aja. Beneran..:P

Oh iya, ada yang menarik, lokasi red lights tidak boleh difoto. Kata tour guide, kalau ketahuan ada yang memfoto, terutama memfoto para ladies, maka HP akan dirampas dan dilempar ke sungai, karena lokasi red lights banyak yang berada di pinggir sungai Amsterdam.

Beralih sekarang ke masalah sosiologis dan budaya. Pemandangan di Amsterdam dan Den Haag berbeda kondisi sosialnya dengan di kota. Khususnya budaya memakai sepeda ke mana-mana. Jumlah sepeda di sana melebihi jumlah penduduknya. Katanya, rata-rata satu rumah memiliki lebih dari satu sepeda. Sesuai dengan jumlah anggota keluarganya, bisa dua, tiga, bahkan lebih. Beda dengan di kita yang terbiasanya dengan sepeda motor, alias negeri sejuta bebek..motor bebek maksudnya.:v

Hal menarik lainnya, di Amsterdam banyak berdiri toko bertuliskan Coffee Shop. Eits..jangan salah! Coffee shop di sana bukan berarti jualan kopi saja, tetapi di dalamnya menjual mariyuana alias ganja. Saya penasaran, terus kalau mau ngopi di mana? Dijelaskan sama tour guidenya, ngopi di Cafe bukan di Coffee Shop. Dan, ini adalah rahasia umum yang sepertinya penduduk Amsterdam dan Den Haag mengetahuinya.

Namun, menikmati ganja hanya diperbolehkan di dalam ruangan Coffee Shop, kalau ketahuan mengisap di luar atau di tempat terbuka, akan ditangkap. Katanya begitu menurut orang sana.

Coffee Shop di Amsterdam, di dalamnya dijual Ganja.

Budaya lainnya dari warga Belanda, khususnya yang saya perhatikan di Amsterdam dan Den Haag, ada kesamaan dengan budaya penduduk Indonesia. Sama persis malah. Yaitu merokok di sembarang tempat. Bahkan lebih bebas di Belanda. Perempuan bebas merokok di ruang publik, yang kalau di kita agak sungkan jika wanita merokok di tempat terbuka.

Pokoknya di Belanda, puntung rokok berserakan di mana-mana. Samalah dengan di Indonesia. Faktornya, apakah warga kita dipengaruhi kebiasaan di Belanda karena pernah lama menjajah negara Indonesia? Justru menurut saya kebalikannya. Warga Belanda dalam hal merokok dipengaruhi oleh warga dari negara Indonesia. Iya dong, harus bangga, sekali-kali kita mewarnai negara lain. Iya kan? Meskipun dalam hal merokok tidak apa-apa..:v

Bagaimana dengan makanan alias kuliner di sana? Standarlah ya kalau masalah makanan. Orang sana makanan utamanya bukan nasi, itu sudah pasti. Jadi kalau sarapan dan makan siang, bukan makan nasi uduk, bubur, dan nasi padang seperti di kita.

Namun, tidak usah khawatir, di Belanda banyak warga diaspora Indonesia yang berjualan makanan Indonesia. Bahkan datanya seperti diungkap oleh KBRI, jumlah restoran yang menjual makanan khas Indonesia lebih dari 500 outlet. Nasi Padang ada di sana, nasi Warteg pun ada. Kalau di Amsterdam, selain karena banyak warga Indonesia yang telah menjadi warga Belanda, juga banyak mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di sana.

Ada peristiwa menarik saat grup kami hendak menaiki Kanal Cruise. Sopirnya, atau apa namanya yang pengemudi perahu, pokoknya itulah..menyapa para penumpang yang menaiki boat, ketika mengetahui kami berasal dari Indonesia.

Ujar dia, “Selamat datang di Amsterdam, saya selaku warga Belanda menyampaikan permohonan maaf atas ekspansi (penjajahan) negara kami ke Indonesia puluhan tahun lalu. Gedung-gedung yang berdiri megah di Amsterdam mayoritas dibangun dari kekayaan Indonesia”*.

Galeri Foto:

Video:

0:00

/0:15

Video di Dam Square

What do you think?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Comments Yet.